Gedung Museum Tekstil Sumsel

Email Cetak PDF

Bekas Kediaman Residen, Usianya Mencapai Satu Abad, Gedung exs BP7 yang kini dijadikan Museum Tekstil Sumsel di Jl Dipenogoro jadi perbincangan hangat. Ini tak lepas dari rencana pembangunan Heritage Hotel Palembang di areal tersebut. Kalangan sejarawan, seniman serta pemerhati kebudayaan menyayangkan dibangun hotel tersebut. Apa sebab?


 

 Kawasan Talang Semut, termasuk di dalamnya Jl Dipenogoro terkenal sebagai komplek perumahan pejabat Belanda. Salah satu bangunan khas zaman kolonial tersebut yang kini dijadikan Museum Tekstil Sumsel. 

Bangunan ini diyakini masih memiliki arsitektur asli. Bangunan kokoh, atap yang tinggi, dengan halaman luas. Membuat kesan kenyamanan penghuni begitu terjaga. Khas gedung kolonial Belanda.

Tak banyak sejarah dikuak dari gedung tersebut. Usai zaman kemerdekaan, banyak mengingat gedung ini digunakan sebagai kantor BP7. Pernah juga menjadi kantor BKN, hingga rumah dinas Ketua DPRD Sumsel. 

Ada juga yang bilang gedung tersebut pernah dijadikan Kejaksaan Tinggi, kantor pembantu Gubernur hinggan kantor Litbang Sumsel. Hingga akhirnya,  5 November 2008 ketika Prof dr Mahyuddin SPOG menjadi Gubernur, gedung dijadikan museum tekstil Sumsel.

Namun, keterangan didapat koran ini dari seorang penjaga museum tekstil, gedung tersebut pernah menjadi kantor residen. “Dulu pernah ada orang Belanda ke sini (muesum tekstil,red) bersama guide nya. Dia bilang kakeknya pernah tugas sebagai residen di sini. Foto-fotonya sempat ditunjukan,” ungkap pegawai museum tekstil kepada Sumeks Minggu belum lama ini.

Cukup membingungkan. Pasalnya, selama ini yang dikenal seb


agai kantor residen Belanda merupakan gedung museum Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II saat ini yang juga menjadi markas Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Budpar) Palembang di kawasan Benteng Kuto Besak (BKB). 

Setelah kekalahan SMB II kepada Belanda tahun 1821, keraton Kuto Kecik jatuh ke tangan Belanda. Oleh Belanda, tahun 1823 keraton tersebut dibongkar hingga ke pondasinya, dibangun rumah untuk residen.

Tak Ada Catatan Sejarah

Menggali masalah  jejak sejarah masalah ini ternyata sangat sulit. Kasi Museum Tekstil, Abdullah Husni sendiri sulit ditemui. Saat koran ini mencoba menemuinya di museum Balaputra Dewa, Rabu (11/5) beberapa pegawai mengatakan Husni tengah berada di Surabaya dan tengah persiapan untuk pensiun.

Padahal, keterangan Kepala Museum Negeri Sumsel, Drs Facrurrozi D MM, Husni berada di Balaputra Dewa. “Mungkin dia khawatir ditanya soal pembangunan hotel,” ungkap Facrurrozi.

Meski koran ini berulang kali menyatakan sekedar menanyakan sejarah gedung museum tekstil, Facrurrozi sendiri terkesan hati-hati. Ia juga tampak khawatir disinggung pertanyaan pembangunan Heritage Palembang Hotel. 

Malah, Facrurrozi menyarankan koran ini meminta keterangan dari Drs Ali Hanafiah, Kepala UPTD Museum SMB II. Mang Amin (panggilan akrab Ali Hanafiah,red) sendiri mengaku tak banyak mengetahui sejarah gedung tersebut. “Bisa dibilang tidak ada catatan sejarahnya,” jelasnya cepat.

Dikatakan Mang Amin, pihaknya sempat mengadakan rapat terhadap pembangunan hotel di kawasan museum dengan pihak pengembang PT Dika Karya Lintas Nusa asal Jakarta.

Namun dari hasil rapat diadakan Selasa (10/11) di kantor Tata Kota Palembang tersebut, hanya terdapat peta dibuat tahun 1935. Saat itu, gedung tersebut masih dijadikan rumah residen. 

Masuk BCB, Lestarikan Tekstil Tradisional

Yang pasti, dari keterangan sumber koran ini yang merupakan pegawai di Balai Arkeologi Palembang, gedung tersebut diperkirakan dibangun awal abad 20. Sehingga, umur gedung tersebut sudah mencapai 100 tahun atau satu abad. 

Dengan usia tersebut, gedung museum tekstil sudah bisa dikategorikan sebagai Benda Cagar Budaya (BCB). Meskipun menurut sumber koran ini belum mendapat keabsahan melalui SK Menteri Budaya dan Wisata RI. 

Pembangunan Museum Tekstil Sumsel mulai diprakarsai mulai tahun 2007. Keterangan didapat sumber koran ini, awalnya dicetuskan pasangan mantan Gubernur Ir Syahrial Oesman serta istrinya Maphilinda. Sebelum diresmikan, beberapa kali pasangan tersebut memantau gedung yang dulunya merupakan exs kantor BP7 tersebut.

“Dulu gedung museum ini kosong. Dari pada kosong, maka dijadikan museum tekstil ini. Zaman pak Mahyudin jadi Gubernur baru diresmikan,’ jelas sumber koran ini. 

Pencetusan museum ini berawal dari keinginan untuk melestarikan hasil budaya. Berupa tekstil tradisional Sumsel.  Yang sangat terkenal, dari songket, gebeng, jumputan hingga batik. Yang dulunya berfungsi sebagai lambang kekuasan, kejayaan, kemakmuran dan pemenuh estetika. 

Sempat dikelola Dinas Pendidikan, museum kemudian dikelola di bawah dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumsel. 

Koleksi dipamerkan selama ini, dari tekstil zaman prasejarah, tekstil zaman Hindu-Budha, tekstil zaman kesultanan dan kolonial, tekstil masa pendudukan Jepang, industrialisasi tekstil masa kemerdekaan, teknologi pembuatan tekstil di Sumsel, ragam hias tenun tradisional, tenun songket, tajung/gebeng hingga jumputan.

“Kalau program yang sempat kami dengar, di bagian belakang rencananya mau dikaryakan penenun songket dan jumputan. Biar wisatawan bisa melihat langsung proses pembuatan songket. Cuma pergantian pimpinan, program itu mungkin tidak diteruskan,” tandas sumber tersebut. 

Yang pasti, kini masyarakat tak dapat lagi melihat koleksi di museum tekstil. Sekeliling museum sudah dipagari terkait rencana pembangunan Heritage Hotel Palembang. (wwn)


Written by: samuji Rabu, 18 Mei 2011 14:22 LAST_UPDATED2
 
ROMA, Ketakutan akan muncul bentrok suporter, bakal mewarnai final Coppa Italia antara AS Roma dan Lazio pada Minggu (26/5) ...
MONAKO, Tim Mercedes sukses mengamankan posisi pole position di tiga seri balap F1 terakhir. Menjelang GP Monako, Fernando A...
Palace Dilarang Tampil di Wembley LONDON, Crystal Palace akan menghadapi Watford pada laga final play-off promosi ke Premier...
Harusnya Pilih Chelsea Setelah berbulan-bulan dihinggapi spekulasi, Atletico Madrid akhirnya merestui Radamel Falcao untuk pe...